Tampilkan postingan dengan label pendidikan keperawatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pendidikan keperawatan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 13 Oktober 2009

Asuhan keperawatan pneumonia

KONSEP DASAR

I. Pengertian.
Pneumonia adalah radang paru-paru yang dapat disebabkan oleh bermacam-macam, seperti bakteri, virus, jamur, dan benda-benda asing (Ngastiyah, 1997).
Menurut Lab/UPF Ilmu Kesehatan Anak RSUD Dr. Soetomo, 1994 pneumonia adalah radang pada parenkim paru.
Pneumonia adalah penyakit inflamasi pada paru yang dicirikan dengan adanya konsolidasi akibat eksudat yang masuk dalam area alveoli. (Axton & Fugate, 1993).
Pneumonia adalah keradangan dari parenkim paru di mana asinus terisi dengan cairan radang dengan atau tanpa disertai infiltrasi dari sel radang ke dalam dinding alveoli dan rongga intestinum (Amin & Al sagaff, 1989).
Pneumonia adalah Suatu radang paru-paru yang ditandai oleh adanya konsolidasi exudat yang mengisi alveoli dan bronchiolus ( Axton ).

II. Etiologi.
1. Bakteri : Pneumokokus merupakan penyebab utama pneumonia, dimana pada anak-anak serotipe 14, 1, 6, dan 9, Streptokokus dimana pada anak-anak dan bersifat progresif, Stafilokokus, H. Influenza, Klebsiela, M. Tuberkulosis, Mikoplasma pneumonia.
2. Virus : Virus adeno, Virus parainfluenza, Virus influenza, Virus respiratori sinsisial.
3. Jamur : Kandida, Histoplasma, Koksidioides.
4. Protozoa : Pneumokistis karinii.
5. Bahan kimia :
a. Aspirasi makanan/susu/isi lambung
b. Keracunan hidrokarbon (minyak tanah, bensin, dan sebagainya).

III. Tanda dan Gejala
 Sesak Nafas
 Batuk nonproduktif
 Ingus (nasal discharge)
 Suara napas lemah
 Retraksi intercosta
 Penggunaan otot bantu nafas.
 Frekuensi napas : umur 1 - 5 tahun 40 x/mnt a/ lebih
• umur 2 bln-1 tahun 50 x/mnt a/ lebih
• umur < 2 bulan 60 x/mnt.
 Demam
 Ronchii
 Cyanosis
 Leukositosis
 Thorax photo menunjukkan infiltrasi melebar.
 Mual sampai muntah, kadang-kadang perut kembung

IV. Patofisiologi
NORMAL
(Sistem Pertahanan)

Terganggu

Organisme ® sal nafas bag bawah


Virus neumokokus Stapilokokus

Merusak sel epitel bersilia, Alveoli Toksin, Coagulase
sel goblet

Eksudat masuk Trombus
Kuman patogen mencapai ke Alveoli
bronkioli terminalis

Cairan edema + leukosit Sel darah merah, Permukaan
ke alveol leukosit, pneumokokus pleura tertutup
mengisi alvioli lapisan tebal eksudat.

Konsilidasi Paru Leukosit + Fibrin Trombus Vena
Mengalami konsolidasi Pulmonalis

Kapasitas Vital, Leukositosis Nekrosis
Compliance menurun, Hemoragik
Pneumatocele.

V. Penatalaksanaan.
Pada penyakit yang ringan, mungkin virus tidak perlu antibiotic. Pada penderita yang rawat inap (penyakit berat) harus segera diberi antibiotic. Pemilihan jenis antibiotic didasarkan atas umur, keadaan umum penderita dan dugaan kuman penyebab.
1. Umur 3 bulan-5 tahun, bila toksis mungkin disebabkan oleh Streptokokus pneumonia, Hemofilus influenza atau Stafilokokus. Pada umumnya tidak dapat diketahui kuman penyebabnya, maka secara praktis dipakai :
Kombinasi :
Penisilin prokain 50.000-100.000 KI/kg/24jam IM, 1-2 kali sehari, dan Kloramfenikol 50-100 mg/kg/24 jam IV/oral, 4 kali sehari.
Atau kombinasi :
Ampisilin 50-100 mg/kg/24 jam IM/IV, 4 kali sehari dan Kloksasilin 50 mg/kg/24 jam IM/IV, 4 kali sehari.
Atau kombinasi :
Eritromisin 50 mg/kg/24 jam, oral, 4 kali sehari dan Kloramfenikol (dosis sda).
2. Umur <3 bulan, biasanya disebabkan oleh : Streptokokus pneumonia, Stafilokokus atau Entero bacteriaceae.
Kombinasi :
Penisilin prokain 50.000-100.000 KI/kg/24jam IM, 1-2 kali sehari, dan Gentamisin 5-7 mg/kg/24 jam, 2-3 kali sehari.
Atau kombinasi :
Kloksasilin 50 mg/kg/24 jam IM/IV, 4 kali sehari dan Gentamisin 5-7 mg/kg/24 jam, 2-3 kali sehari.
Kombinasi ini juga diberikan pada anak-anak lebih 3 bulan dengan malnutrisi berat atau penderita immunocompromized.
3. Anak-anak > 5 tahun, yang non toksis, biasanya disebabkan oleh :
Streptokokus pneumonia :
- Penisilin prokain IM atau
- Fenoksimetilpenisilin 25.000-50.000 KI/kg/24 jam oral, 4 kali sehari atau
- Eritromisin (dosis sda) atau
- Kotrimoksazol 6/30 mg/kg/24 jam, oral 2 kali sehari.
Mikoplasma pneumonia : Eritromisin (dosis sda).
4. Bila kuman penyebab dapat diisolasi atau terjadi efek samping obat (misalnya alergi) atau hasil pengobatan tidak memuaskan, perlu dilakukan reevaluasi apakah perlu dipilih antibiotic lain.
5. Lamanya pemberian antibiotic bergantung pada :
- kemajuan klinis penderita
- jenis kuman penyebab
Indikasi rawat inap :
1. Ada kesukaran napas, toksis.
2. Sianosis
3. Umur kurang dari 6 bulan
4. Adanya penyulit seperti empiema
5. Diduga infeksi Stafilokokus
6. Perawatan di rumah kurang baik.
Pengobatan simptomatis :
1. Zat asam dan uap.
2. Ekspetoran bila perlu
Fisioterapi :
1. Postural drainase.
2. Fisioterapi dengan menepuk-nepuk.


Asuhan Keperawatan.
A. Pengkajian keperawatan.
1. Identitas.
Umumnya anak dengan daya tahan terganggu akan menderita pneumonia berulang atau tidak dapat mengatasi penyakit ini dengan sempurna. Selain itu daya tahan tubuh yang menurun akibat KEP, penyakit menahun, trauma pada paru, anesthesia, aspirasi dan pengobatan antibiotik yang tidak sempurna.
2. Riwayat Keperawatan.
a. Keluhan utama.
Anak sangat gelisah, dispnea, pernapasan cepat dan dangkal, diserai pernapasan cuping hidupng, serta sianosis sekitar hidung dan mulut. Kadang disertai muntah dan diare.atau diare, tinja berdarah dengan atau tanpa lendir, anoreksia dan muntah.
b. Riwayat penyakit sekarang.
Bronkopneumonia biasanya didahului oleh infeksi saluran pernapasan bagian atas selama beberapa hari. Suhu tubuh dapat naik sangat mendadak sampai 39-40oC dan kadang disertai kejang karena demam yang tinggi.
c. Riwayat penyakit dahulu.
Pernah menderita penyakit infeksi yang menyebabkan sistem imun menurun.
d. Riwayat kesehatan keluarga.
Anggota keluarga lain yang menderita penyakit infeksi saluran pernapasan dapat menularkan kepada anggota keluarga yang lainnya.
e. Riwayat kesehatan lingkungan.
Menurut Wilson dan Thompson, 1990 pneumonia sering terjadi pada musim hujan dan awal musim semi. Selain itu pemeliharaan ksehatan dan kebersihan lingkungan yang kurang juga bisa menyebabkan anak menderita sakit. Lingkungan pabrik atau banyak asap dan debu ataupun lingkungan dengan anggota keluarga perokok.
f. Imunisasi.
Anak yang tidak mendapatkan imunisasi beresiko tinggi untuk mendapat penyakit infeksi saluran pernapasan atas atau bawah karena system pertahanan tubuh yang tidak cukup kuat untuk melawan infeksi sekunder.
3. Riwayat pertumbuhan dan perkembangan.
Nutrisi.
Riwayat gizi buruk atau meteorismus (malnutrisi energi protein = MEP).
4. Pemeriksaan persistem.
a. Sistem kardiovaskuler.
Takikardi, iritability.
b. Sistem pernapasan.
Sesak napas, retraksi dada, melaporkan anak sulit bernapas, pernapasan cuping hdidung, ronki, wheezing, takipnea, batuk produktif atau non produktif, pergerakan dada asimetris, pernapasan tidak teratur/ireguler, kemungkinan friction rub, perkusi redup pada daerah terjadinya konsolidasi, ada sputum/sekret. Orang tua cemas dengan keadaan anaknya yang bertambah sesak dan pilek.
c. Sistem pencernaan.
Anak malas minum atau makan, muntah, berat badan menurun, lemah. Pada orang tua yang dengan tipe keluarga anak pertama, mungkin belum memahami tentang tujuan dan cara pemberian makanan/cairan personde.
d. Sistem eliminasi.
Anak atau bayi menderita diare, atau dehidrasi, orang tua mungkin belum memahami alasan anak menderita diare sampai terjadi dehidrasi (ringan sampai berat).
e. Sistem saraf.
Demam, kejang, sakit kepala yang ditandai dengan menangis terus pada anak-anak atau malas minum, ubun-ubun cekung.

f. Sistem lokomotor/muskuloskeletal.
Tonus otot menurun, lemah secara umum.
5. Pemeriksaan diagnostik dan hasil.
Secara laboratorik ditemukan lekositosis, biasanya 15.000 - 40.000 / m dengan pergeseran ke kiri. LED meninggi. Pengambilan sekret secara broncoskopi dan fungsi paru-paru untuk preparat langsung; biakan dan test resistensi dapat menentukan/mencari etiologinya. Tetapi cara ini tidak rutin dilakukan karena sukar. Pada punksi misalnya dapat terjadi salah tusuk dan memasukkan kuman dari luar. Foto roentgen (chest x ray) dilakukan untuk melihat :
• Komplikasi seperti empiema, atelektasis, perikarditis, pleuritis, dan OMA.
• Luas daerah paru yang terkena.
• Evaluasi pengobatan
Pada bronchopnemonia bercak-bercak infiltrat ditemukan pada salah satu atau beberapa lobur.
Pada pemeriksaan ABGs ditemukan PaO2 < 0 mmHg.
6. Masalah pemenuhan kebutuhan dasar (pohon masalah).

B. Diagnosa keperawatan.
1. Ketidakefektifan bersihan jalan napas b.d. produk mukus berlebihan dan kental, batuk tidak efektif.
2. Gangguan pertukaran gas b. d. peerubahan membrane alveolar.
3. Risiko perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d intake inadekuat.
4. Hipertermi b.d proses inflamasi paru


C. Perencanaan Keperawatan
Diagnosa Keperawatan Perencanaan Keperawatan
Tujuan dan kriteria hasil Intervensi Rasional
Ketidakefektifan bersihan jalan napas b.d. produk mukus berlebihan dan kental, batuk tidak efektif.
Jalan napas pasien akan paten dengan kriteria hasil jalan napas bersih, batuk hilang, x ray bersih, RR 15 – 35 X/menit.
1. Auskultasi bunyi napas
2. Kaji karakteristik secret
3. Beri posisi untuk pernapasan yang optimal yaitu 35-45 derajat
4. Lakukan nebulizer, dan fisioterapi napas
5. Beri agen antiinfeksi sesuai order
6. Berikan cairan per oral atau iv line sesuai usia anak.
Rasional
1.Menetukan adekuatnya pertukran gas dan luasnya obstruksi akibat mucus.
2.Infeksi ditandai dengan secret tebal dan kekuningan
3.Meningkatkan pngembangan diafragma
4.Nebulizer membantu menghangatkan dan mengencerkan secret. Fisioterapi membantu merontokan secret untuk dikeluarkan.
5.Menghambat pertumbuhan mikoroorganisme
6.Cairan adekuat membantu mengencerkan secret sehingga mudah dikeluarkan
Gangguan pertukaran gas b. d. peerubahan membrane alveolar.
Pertukaran gas normal bagi pasien dengan criteria PaO2 = 80-100 mmHg, pH darah 7,35-7,45 dan bunyi napas bersih.
1. Kaji tingkat kesadaran
2. Observasi warna kulit dan capillary refill
3. Monitor ABGs
4. Atur oksigen sesuai order
5. Kurangi aktivitas anak
rasional
1.Tanda ini menunjukkan hipoksia
2.Menentukan adekuatnya sirkulasi dimana penting untuk pertukaran gas ke jaringan
3.Deteksi jumlah Hb yang ada dan adanya infeksi
4.Meningkatkan pertukaran gas dan mengurangi kerja pernapasan
5.Mengurangi kebutuhan akan oksigen
Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d intake inadekuat.
Stauts nutrisi dalam batas normal dengan criteria BB bertambah 1 kg/minggu, tidak pucat, anoreksia hilang, bibir lembab
1 Auskultasi bunyi usus
2 Kaji kebutuhan harian anak
3 Ukur lingkat lengan, ketebalan trisep
4 Timbang berat badan setiap hari.
5 Berikan diet pada anak sesuai kebutuhannya
rasional
1.Mendokumentasikan peristaltis usus yang dibutuhkan untuk digesti.
2.Membantu menetapkan diet individu anak
3.Hal ini menentukan penyimpanan lemak dan protein.
4.Nutrisi meningkat akan mengakibatkan peningkatan berat badan.
5.Memenuhi kebutuhan nutrisinya.

Hipertermi b.d proses inflamasi paru
Suhu tubuh dalam batas normal dengan criteria hasil suhu 372 0C, kulit hangat dan lembab, membrane mukosa lembab. 1. Ukur suhu tubuh setiap 4 jam
2. Monitor jumlah WBC

3. Atur agen antipiretik sesuai order.
4. Tingkatkan sirkulasi ruangan dengan kipas angina.
5. Berikan kompres air biasa
Rasional
1.Indikasi jika ada demam

2.Leukositosis indikasi suatu peradangan dan atau proses infeksi
3.Megnurangi demam dengan bertindak pada hipotalamus
4.Memfasilitasi kehlangan panas lewat konveksi
5.Memfasilitasi kehilangan panas lewat konduksi

D. Implementasi
Merupakan pelaksanaan dari rencana atau intervernsi keperawatan dilapangan atau pada saat melakukan praktekum.

E. Evaluasi
Merupakan hasil dan respon dari pasien setelah diberikan implementasi atau tindakan melalui SOAP.
S : data yang dapat ditanyakan dari keadaan keluhan dari pasien
O : data yang dapat dilihat oleh perawat
A : masalah dari pasien apakah sudah teratasi atau belum teratasi.
P : kelanjutan dari tindakan atau intervensi yang akan dilakukan


Daftar Pustaka

 Doengoes Marilynn E. (2000). Rencana Asuhan Keperawatan; Pedoman Untuk Perencanaan Dan Pendokumentasian Perawatan. Edisi 3. EGC. Jakarta.
 Ngastiyah. (1997). Perawatan Anak Sakit. EGC. Jakarta.
 Suparman. (1990). Ilmu Penyakit Dalam. EGC. Jakarta

Rabu, 24 Juni 2009

asuhan keperawatan pada bayi dengan hiperbilirubinema (maternitas)

ASUHAN KEPERAWATAN

PADA BAYI DENGAN HIPERBILIRUBINEMIA

Pengertian :

Heperbilirubinemia adalah : peningkatan konsentrasi bilirubin tak terkonjugasi yang ditunjukan dengan ikterik ..

Etiologi :

Beberapa penyebabb hiperbilirubin pada bayi BBL adalah :

  1. Faktor fisiologik / prematuritas
  2. Berhubungan dengan air susu ibu
  3. Meningkatnya produksi bilirubin / hemolitik,
  4. Ketidak mampuan hepar liver untuk mensekresi bilirubin conjugata/ deficiensi ensim dan obstruksi duktus biliaris
  5. Campuran antara meningkatnya produksi dan menurunnya ekskresi / sepsis
  6. Adanya penyalit / hipothiroidism, galaktosemia, bayi dengan ibu DM.
  7. Predisposisi Genetik untuk meningkatkan produksi.

Pathofisiologi :

Bilirubin adalah produk pemecahan hemoglobin yang berasal dari pengrusakan sel darah merah /RBCs. Ketika RBCs rusak maka produknya kan masuk sirkulasi, diimana hemoglobin pecah menjadi heme dan globin. Gloobin { protein } digunaka kembali oleh tubuh sedangkan heme akan diruah menjadi bilirubin unkonjugata dan berikatan dengan albumin.

Didalam liver bilirubin berikatan dengan protein plasma dan dengan bantuan ensim glukoronil transferase dirubah menjadi bilirubin konjugata yang akan ddikeluarkan lewat saluran empedu ke saluran intestinal. Di Intestinal dengan bantuan bakteri saluran intestinal akan ddirubah menjadi urobilinogen dan starcobilin yang akan memberi warna pada faeces. Umumnya bilirubin akan diekskresi lewat faeces dalam bentuk stakobilin dan sedikit melalui urine dalam bentuk urobilinogen.

Red Blood Cell


Hemoglobin


Heme globin










Iron unconjugated bilirubin

Glucoronil acid Aksi dari glucoronil

transferase

Conjugated bilirubin

Glucoronil




Exkresi lewat faeces dan urine

Pada BBL bbilirubin direk dapat dirubah menjadi bilirubin indirek didalam usus karena terdapat beta –glukoronidase yang berperan penting terhadap perubahan tersebut. Bilirubin inddirek diserap lagi oleh usus kemudian masuk kembali ke hati .

Keadaan ikterus di pengaruhi oleh :

  1. Faktor produksi yng berlebihan melampaui pengeluaran : hemolitik yang meningkat
  2. Gangguan uptake dan konjugasi hepar karena imaturasi hepar.
  3. Gangguan transportasi ikatan bilirubin + albumin menuju hepar , defiiensi albumin menyebabkan semakin banyak bilirubin bebas ddalam darah yang mudah melewati sawar otak sehingga terjadi kernicterus
  4. Gangguan ekskresi akibat sumbatan ddalam hepar atau diluar hepar, karena kelainan bawaan/infeksi atau kerusakan hepar karena penyakit lain.

Ikterus pada neonatorum dapat dibagi dua :

1. Ikterus fisiologi

Ikterus muncul pada hari ke 2 atau ke 3, dan tampak jjelas pada hari 5-6 dan menghilang hari ke 10. Bayi tampak biasa , minum baik , BB naik biasa. Kadar bilirubin pada bayi aterm tidak lebih dari 12 mg /dl, pada BBLR 10 mg/dl, dan akan hilang pada hari ke-14.

Penyebab ikterus fisiologik diantaranya karena kekurang protein Y dan , ensim glukoronil transferase yang cukup jumlahnya.

2. Ikterus Patologis

a. Ikterus yang muncul dalam 24 jam kehidupan ,, serum bilirubin total lebih dari 12 mg/dl.

b. Peningkatan bilirubin 5 mg persen atau lebih dalam 24 jam

c. Konsentrasi bilirubin serum melebihi 10 mg/dl pada bayi premature atau 12 mg/dl pada bayi aterm.

d. Ikterus yang disertai proses hemolisis

e. Bilirubin Derek lebih dari mg/dl, atau kenaikan bilirubin serum mg/dl/jam atau 5 mg/dl/hari.

f. Ikterus menetap setelah bayi berumur 10 hari pada bayi aterm dan 14 hari pada BBLR.

Keadaan yang mnyebabkan ikterus patologis adalah

  1. Penyakit hemolitik
  2. Kelainan sel darah merah
  3. Hemolisis : hematoma, Polisitemia, perdarahan karena trauma jalan lahir.
  4. Infeksi
  5. Kelainan metabolic : hipoglikemia, galaktosemia
  6. Obat—obatan yang menggantikan ikatan bbilirubin dengan albumin seperti : sulfonaamida, salisilat, sodium bensoat, gentamisin,
  7. Pirau enterohepatik yang meninggi : obstruksi usus letak tinggi, hirschsprung, stenosis pylorus, mekonium illeus.

Komplikasi
Terjadi kernicterus yaitu kerusakan otak akibat perlengketan bilirubin indirek pada otak dengan gambaran klinik :

  1. Letargi/lemas
  2. Kejang
  3. tak mau menghisap
  4. tonus otot meninggi, leher kaku dan akhirnya opistotonus
  5. Bila bayi hidup pada umur lebih lanjut dapat terjadi spasme otot, epistotonus, kejang
  6. dapat tuli, gangguan bicara, retardasi mental.

Pengkajian Keperawatan :

1. Kepala : tampak ikterik

    1. Mata : sclera tampak ikterik, konjungtiva anemis bila ikterus patologik karena hemmolisis.
    2. Hidung : tidak ada kelainan
    3. Mulut : mukosa mulut dan bibir tampak ikterik
    4. Telinga tidak ada kelainan

2. Leher : tampak ikterik , leher kaku dan akhirnya epistotonus pada kernicterus.

3. Dada : simetris, tampak ikterik pada seluruh dada atau tidak tergantung kadar bilirubin.

    1. Paru-paru : apne, cyanosis, dispnea pada keadaan kernikterus. Aspiksia dan pulmonary effusi pada hidrops fetalis
    2. Jantung : Edema umum atau berkurangnya volume darah gagal jjantung pada kondisi hidrops fetalis

4. Abdomen : tampak ikterik, palpasi supel , distensi -, dapat ditemukan hepatospleno megali.

5. Ginjal : warna urine gelap dengan meningkatnya konsentrasi bilirubin.

6. Genitalia : tidak ada masalah

7. Rektum : anus +,

8. Ekstremitas : tampak ikterik pada seluruh ektermitas atau hanya sebagian , letargi, tonus otot meninggi.

9. Punggung : tampak ikterik, tidak ada kelainan bentuk tulang belakang.

10. Neurologi : hipotonia, tremor, reflek moro dan menghisap tidak ada, diminished reflek tendon, kejang.

11. Endokrin : tidak gangguan pada system endokrin.

Pemeriksaan penunjang :

  1. Bilirubin serum , indirek dan indirek : peningkatan bilirubin diatas 10 mg/dl pada bayi aterm atau 12 mg/dl padda BBLR
  2. Golongan darah ibu dan bayi, serologi darah tali pusat.
  3. Hb dan HCT : Hb kurang dari 14 gr persen dan HCT kurang dari 42 persen menandakan adanya proses hemolitik. Hb dari tali pusat kurang dari 12 g/dl indikasi diperlukaannya transfusi tukar.
  4. Protein total.
  5. Leukosit darah untuk memantau adanya infeksi
  6. BJ urine
  7. comb test [ indirek dan direk ]

Diagnosa Keperawatan :

  1. Resiko tinggi cedera : MR, kematian b.d. meningkatnya kadar bilirubin
  2. Resiko tinggi kekurangan volume cairan b.d. phototerapi.
  3. Kerusakan integritas kulit b.d. efek dari phototerapi.
  4. Resiko terjadi gangguan regulasi suhu tubuh b d efek prototerapi
  5. Resiko tinggi injuri : side efek pengobatan terhadap kehidupan b.d.. transfusi tukar
  6. Resiko tinggi perubahan peran orang tua b.d. pemisahan
  7. Kurangnya pengetahuan tentang kondisi anak dam perawatan di rumah.

Rencana keperawatan :

1. Resiko tinggi cedera b.d. meningkatnya kadar bilirubin toksik dan komplikasi berkenaan phototerapi.

Tujuan : Klien tidak menunjukan gejala sisa neurologis ddan berlanjutnya komplikasi phototerapi.

Kriteria hasil :

Rencana

Rational

1.Identifikasi adanya factor resiko :

- bruising

- sepsis

- delayed ord clamping

- ibu dengan DM

- Rh, ABO antagonis

- Pletora

- SGA

2.Kaji BBL terhadap adanya hiperbilirubinemia setia 2-4 jam lima hari pertama kehidupan

3.Perhatikan dan dokumentasikan warna kulit dari kepala, sclera dan tubuh secara progresif terhadap ikterik setiap pergantian shift

4. Monitor kadar bilirubin dan kolaborasi bila ada peningkatan kadar

5.Monittor kadar Hb, Hct ata adanya penurunan

6.Monitor retikulosit, kolaborasi bila ada peningkatan

7.Berikan phototerapi :

- sesuai protocol untu waktu, prosedur, dan durasi.

- Monitor kadar bilirubin setia 6 – 12 jam under therapy

- Tutup mata dengan tameng mata , hindari tekanan pada hidung

- Ganti bantalan mata sedikitnya 2 kali sehhari

- Inspeksi mata dengan lampu sedikit nya 8 jam sekali

- Pertahankan teraapi cairan parenteral untuk hidrasi kolabborasi medis

- Pertahankan suhu axial 36.5 dderajat celsius

8.Lakukan transfusi tukar kolaborasi medis

- Monitoe vital sign selama dan setelah transfusi tukar

- Periksa darah yang keluar dan masuk

1.Adanya factor resiko membimbing perawat untuk waspada terhadap kemung kinan munculnya hiperbilirubinemia

2. BBL sangat rentan terhadap hiperbilirubinemia.

3.Mengetahui addanya hiperbilirubinemi secara dini sehingga dapat dilakukan tindakan penanganan segera.

4 Peningkatan kadar bilirubin tang tinggi

5.Adanya penurunan Hb,Hct menunjukan adanya hemolitik

7. phototerapi berfungsi mendekomposisi kan bilirubin dengan photoisomernya. Selama photooterapi perlu diperhatikan adanya komplikasi seperti : hipertermi, Konjungtivitis, dehidrasi.

8. Transfusi tukar dilakukan bila terjadi hiperbilirubinemia pathologis karena terjadinya proses hemoliitik berlebihan yang disebabkan oleh ABO antagonis.

2. Resiko tinggi kekurangan volume cairan b.d. phototerapi.

Tujuan : Klien tiidak menunjjukan tanda-tanda kekurangan volume cairan

Rencana

Rasional

1.pertahankan intake cairan :

- Timbang BB perhari

- Ukur intake output

- Berikan intake extra peroral atau per IV jika ada kehilangan BB progresif, meningkatnya suhu, diare, onsentrasi urine,

2.Kaji Output :

- kaji jumlah, warna urine setiap 4 jam

- Kaji

- Diare yang berlebihan

3.Kaji Hidrasi :

- Monitor suhu tubuh tiap 4 jam

- Inspeksi membran mukosa dan pontanel

1.Intake cairan yang adekuat metabolisme bilirubin akan berlangsung sempurna dan terjadii keseimbangan dengan caairan yang keluar selama photo terapi karena penguapan

2.Output yang berlebihan atau tidak seimbang dengan intake akan menyebabkan gangguan keseimbangan cairan.

3. Hidrasi yang adekuat menunjukan keseimbangna cairan tubuh baik yang ditunjukan dengan suhu tubuh 36-37 derajat Celsius dan membran mukosa mulut lembab dan fontaanela datar.

3. Kerusakan integritas kulit b.d. efek dari phototerapi.

Tujuan : Klien tidak menunjukan gangguan integritas kulit

1.Monitor adanya kerusakan integritas kulit

2.Bersihkan kulit bayi dari kotoran setelah BAB, BAK

3.Pertahankan suhu lingkungan netral dan suhu axial 36.5 derajat Celsius

4.Lakukan perubahan posisi setiap 2 jam.

5.Berikan istirahat setelah 24 jam phototerapi

1. Deteksi dini kerusakjan integritas kulit

2. Faeces dan urine yang bersifat asam dapat mengiritasi kulit

3. Suhu yang tinggi menyebabkan kulit kering sehingga kulit mudah pecah

4. Perubahab posisi mempertahankan sirkulasi yang adekuat dan mencegah penekanan yang berlebihan pada satu sisi


Daftar Pustaka :

  1. Melson Kathryn A.,1999, Maternal Infant Health Care Planning, edisi kedua,Springhouse, Pennsylvania
  2. Ngastiyah, 1997, Perawatan Anak Sakit, EGC, Jakarta.
  3. Tucker Susan Martin, at al.,1999, Standar Perawatan Pasien , Proses Keperawatan, Diagnosis, dan evaluasi, EGC, Jakarta.

Diagnosa Keperawatan :

  1. Resiko tinggi cedera : MR, kematian b.d. meningkatnya kadar bilirubin
  2. Resiko tinggi kekurangan volume cairan b.d. phototerapi.
  3. Kerusakan integritas kulit b.d. efek dari phototerapi.
  4. Resiko terjadi gangguan regulasi suhu tubuh b d efek prototerapi

Rencana keperawatan :

  1. Resiko tinggi cedera b.d. meningkatnya kadar bilirubin toksik dan komplikasi berkenaan phototerapi.

Tujuan : Klien tidak menunjukan gejala sisa neurologis ddan berlanjutnya komplikasi phototerapi.

Rencana

Rational

9.Identifikasi adanya factor resiko :

- bruising

- sepsis

- delayed ord clamping

- ibu dengan DM

- Rh, ABO antagonis

- Pletora

- SGA

10. Kaji BBL terhadap adanya hiperbilirubinemia setia 2-4 jam lima hari pertama kehidupan

11. Perhatikan dan dokumentasikan warna kulit dari kepala, sclera dan tubuh secara progresif terhadap ikterik setiap pergantian shift

12. Monitor kadar bilirubin dan kolaborasi bila ada peningkatan kadar

13. Monittor kadar Hb, Hct ata adanya penurunan

14. Monitor retikulosit, kolaborasi bila ada peningkatan

15. Berikan phototerapi :

- sesuai protocol untu waktu, prosedur, dan durasi.

- Monitor kadar bilirubin setia 6 – 12 jam under therapy

- Tutup mata dengan tameng mata , hindari tekanan pada hidung

- Ganti bantalan mata sedikitnya 2 kali sehhari

- Inspeksi mata dengan lampu sedikit nya 8 jam sekali

- Pertahankan teraapi cairan parenteral untuk hidrasi kolabborasi medis

- Pertahankan suhu axial 36.5 dderajat celsius

16. Lakukan transfusi tukar kolaborasi medis

- Monitoe vital sign selama dan setelah transfusi tukar

- Periksa darah yang keluar dan masuk

4.Adanya factor resiko membimbing perawat untuk waspada terhadap kemung kinan munculnya hiperbilirubinemia

2. BBL sangat rentan terhadap hiperbilirubinemia.

2.Mengetahui addanya hiperbilirubinemi secara dini sehingga dapat dilakukan tindakan penanganan segera.

3.Peningkatan kadar bilirubin tang tinggi

5.Adanya penurunan Hb,Hct menunjukan adanya hemolitik

7. phototerapi berfungsi mendekomposisi kan bilirubin dengan photoisomernya. Selama photooterapi perlu diperhatikan adanya komplikasi seperti : hipertermi, Konjungtivitis, dehidrasi.

8. Transfusi tukar dilakukan bila terjadi hiperbilirubinemia pathologis karena terjadinya proses hemoliitik berlebihan yang disebabkan oleh ABO antagonis.

  1. Resiko tinggi kekurangan volume cairan b.d. phototerapi.

Tujuan : Klien tiidak menunjjukan tanda-tanda kekurangan volume cairan

Rencana

Rasional

4.pertahankan intake cairan :

- Timbang BB perhari

- Ukur intake output

- Berikan intake extra peroral atau per IV jika ada kehilangan BB progresif, meningkatnya suhu, diare, onsentrasi urine,

5.Kaji Output :

- kaji jumlah, warna urine setiap 4 jam

- Kaji

- Diare yang berlebihan

6.Kaji Hidrasi :

- Monitor suhu tubuh tiap 4 jam

- Inspeksi membran mukosa dan pontanel

2.Intake cairan yang adekuat metabolisme bilirubin akan berlangsung sempurna dan terjadii keseimbangan dengan caairan yang keluar selama photo terapi karena penguapan

2.Output yang berlebihan atau tidak seimbang dengan intake akan menyebabkan gangguan keseimbangan cairan.

3. Hidrasi yang adekuat menunjukan keseimbangna cairan tubuh baik yang ditunjukan dengan suhu tubuh 36-37 derajat Celsius dan membran mukosa mulut lembab dan fontaanela datar.

  1. Kerusakan integritas kulit b.d. efek dari phototerapi.

Tujuan : Klien tidak menunjukan gangguan integritas kulit

6.Monitor adanya kerusakan integritas kulit

7.Bersihkan kulit bayi dari kotoran setelah BAB, BAK

8.Pertahankan suhu lingkungan netral dan suhu axial 36.5 derajat Celsius

9.Lakukan perubahan posisi setiap 2 jam.

10. Berikan istirahat setelah 24 jam phototerapi

5. Deteksi dini kerusakjan integritas kulit

6. Faeces dan urine yang bersifat asam dapat mengiritasi kulit

7. Suhu yang tinggi menyebabkan kulit kering sehingga kulit mudah pecah

8. Perubahab posisi mempertahankan sirkulasi yang adekuat dan mencegah penekanan yang berlebihan pada satu sisi